fbpx

Hadiri Maulid Nabi Kampung Bulak, Ariza Ajak Umat Teladani Sifat Penyayang Rasul

Jakarta – Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ariza Patria menghadiri kegiatan Maulid Nabi Masjid Nurul Huda, Kampung Bulak, Klender, Jakarta Timur pada (19/11). Dia menekankan bahwa maulid nabi sangat penting sebagai tradisi atas dasar kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Berkumpul dalam acara pengajian seperti ini salah satu bentuk kebaikan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, para ulama, wali-wali Allah, dalam menjalani kehidupan. Apa itu ajarannya? “Kumpulono wong kang sholeh (Bahasa Jawa)” atau berkumpullah dengan orang-orang saleh,” jelasnya.

Dia mengatakan, kadang ada yang salah kaprah dalam hal maulid nabi, sehingga hanya terjebak pada acara yang bersifat seremonial belaka. Padahal yang penting melalui maulid nabi, umat Islam dipersatukan dalam kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Bentuk kecintaan kita diwujudkan dengan meneladani apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau adalah pribadi yang lemah lembut dan menyayangi semua makhluk ciptaan Allah. Ada suatu kisah tentang kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada seorang pengemis yang menghina dan mencaci beliau,” ujarnya.

Baca Juga:  Ariza Hadiri Pelatihan dan Sertifikasi Keahlian Bengkel Las Indonesia

Dia mengatakan, suatu hari, Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada Aisyah yang juga istri Rasulullah itu. “Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku tunaikan?” tanya Abu Bakar.

Aisyah pun menjawab, “Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu saja”.

Abu bakar bertanya, “Apakah itu?”

Aisyah menjawab “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang sering duduk di sana.”

Maka keesokan hari, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Dia bergegas menuju lokasi dimaksud, supaya berjumpa dengan si pengemis. Betapa gembira Abu Bakar mendapati seorang pengemis buta yang duduk di sana. Setelah mengucapkan salam, Abu Bakar lalu duduk dan meminta izin untuk menyuapkan makanan.

Baca Juga:  Ariza Hadiri Peluncuran JakOne Abank dan SIAP QRIS di Pasar Santa

Di luar dugaan, pengemis itu malah murka dan membentak-bentak, “Siapakah kamu!?” Abu Bakar menjawab, “Aku ini orang yang biasa menyuapimu.” Pengemis itu menjawab “Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Jika benar kamu adalah dia, maka tidak susah aku mengunyah makanan di mulutku. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu dengan mulutnya sendiri. Barulah kemudian menyuapiku dengan itu.”

Abu Bakar tidak kuasa menahan deraian air mata dan berkata “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, Abu Bakar. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah Rasulullah Muhammad SAW.”

Mendengar penjelasan Abu Bakar, pengemis tadi seketika terkejut. Dia lalu menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia.”

Baca Juga:  Ariza Apresiasi Peran BKOW Dalam Pembangunan di Jakarta

“Maka di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Demikianlah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW,” sambung Ariza.

Sifat kasih sayang Rasulullah itu perlu ditumbuhkan saat ini, terutama untuk menjaga kerukunan umat beragama, menjalin silaturahmi, menjaga perdamaian, persatuan dan kesatuan Indonesia. Rasulullah adalah sebaik-baik contoh akhlak yang pernah ada di muka bumi ini.

“Sebagai umatnya, tentu kita semua sedikit demi sedikit menerapkan apa yang telah dicontohkan dalam seluruh aspek kehidupan. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan memiliki akhlak yang baik dan terpuji,” katanya.

Turut hadir dalam kegiatan itu, Walikota Jakarta Timur, Syaifullah Hasbiyallah; pejabat pemerintahan setempat antara lain camat, kapolsek, danramil, dan lurah; Ketua DKM Masjid Nurul Huda, Faisal Arifin; serta para penceramah, Habib Muhammad Ridho Bin Yahya, Ustadz Ahmad Khan, dan Ainul Yakin Abdullah Syafi’i. (arizapatria.id)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close