fbpx

Menghidupkan Sumpah Pemuda di Era Keterbukaan Informasi

AGUSTUS lalu kita merayakan 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Oktober ini kita peringati 92 tahun Sumpah pemuda. Di balik angka 75 dan 92 ada hikmah bahwa sulit bagi Indonesia untuk merdeka pada 1945, tanpa bekal semangat persatuan yang dideklarasikan para pemuda pada 1928.

Sosiolog Iwan Gardono Sudjatmiko mengibaratkan ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai terciptanya roh bangsa ini. Roh itu kemudian masuk ke dalam tubuh bangsa Indonesia yang lahir pada 17 Agustus 1945 (Asvi Warman Adam, Bung Karno Dibunuh Tiga Kali, hlm 45).

Kita bersyukur, pengetahuan tentang pengaruh besar Sumpah Pemuda terhadap Proklamasi 1945 telah sampai pada peserta didik, karena diajarkan dalam banyak sejarah maupun tulisan para peneliti dan intelektual lainnya.

Persatuan menjadi kata kunci dalam setiap peringatan Sumpah Pemuda, setidaknya berdasarkan pengalaman saya aktif di berbagai organisasi kepemudaan, maupun saat memberikan materi, mengikuti berbagai acara kepemudaan selama 30 tahun terakhir. Dalam konteks ini, kita harus berterima kasih kepada para guru, pemuka agama di berbagai lembaga pendidikan, pesantren, wartawan, media massa, pengurus ormas. Merekalah garda terdepan yang memberikan pemahaman bahwa persatuan merupakan syarat tercapainya tujuan keluarga, organisasi hingga negara.

Zaman berubah, saat ini penanaman nilai-nilai Sumpah Pemuda dilakukan lewat berbagai metode, tidak hanya dengan ceramah, seminar, upacara, dll. Para guru juga mengadakan lomba disain poster, membuat video, pidato biografi tokoh dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial.

Dalam penanganan Covid-19 misalnya, kita melihat banyak sekali konten dan cara-cara kreatif yang dilakukan anak-anak muda untuk mengingatkan tentang 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak). Karena kagum, beberapa konten itu saya posting di media sosial pribadi. Mereka mampu menyampaikan pesan 3M dengan efektif hanya dalam 15 sampai 60 detik, luar biasa.

Terkait pendidikan kebangsaan saat ini, saya melihat bahan ajar begitu melimpah dan dapat diperoleh dengan mudah. Banyak video budaya dari berbagai suku di dunia tersedia di internet. Suku apa saja yang kita ketik akan muncul sejarahnya, dokumentasinya, minimal profil singkatnya.

Generasi hari ini juga bukan lagi semata menjadi konsumen dari berbagai konten tentang keberagaman, persatuan, namun mereka sendiri adalah produsen dari konten-konten keberagaman itu. “Dari mereka, oleh mereka untuk Indonesia”.

Anak-anak milenial ini menyajikan keberagaman dengan ringan, misalnya memvideokan kuliner, rumah adat serta berbagai keunikan yang mereka temui saat travelling, berfoto dengan teman-teman yang beda warna kulit, suku, agama selama perjalanan. Kebanggaan mereka dengan keberagaman Indonesia diekpresikan dengan cara-cara yang unik dan asyik. Bahkan ada sindiran yang biasa anak-anak kita ini sampaikan kepada mereka yang sangat fanatik dan belum terbiasa dengan perbedaan yaitu “kurang piknik lu”. Hanya tiga kata tapi bermakna. Kurang piknik ini bukan menyarankan untuk membeli tiket, naik pesawat, jalan-jalan, menginap di hotel yang tentu tidak semua orang dapat melakukannya. Namun kurang piknik ini bermakna kurang membaca, kurang diskusi, dan menariknya kurang piknik itu bisa “diobati” dengan berselancar di media sosial, menonton film pendek berbahasa Aceh, Jawa, Minang, Sunda, Banjar, Dayak, Papua dll untuk membuka pikiran.

Saya juga melihat anak-anak kita sejak dini sudah melihat berbagai perbedaan, bukan saja di lingkungannya tapi di berbagai belahan dunia dari ponselnya. Harapan kita, semua ini melahirkan kesadaran permanen bahwa seluruh perbedaan di alam ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Sebelum kita lahir perbedaan itu sudah ada, kita syukuri dan rayakan perbedaan itu.

Banyak bangsa di Nusantara ini, pada 28 Oktober 1928 diwakili oleh para pemudanya bersumpah menjadi satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Jadi kita bisa disebut Keluarga Besar Bangsa Indonesia. Di dunia ini ke mana saja kita memandang selalu ada perbedaan, di keluarga, di organisasi, bahkan di internal setiap agama ada perbedaan.

Dari sejarah dan akumulasi pengalaman manusia, kita bisa mengetahui dan memahami bagaimana cara mengelola perbedaan, mengapa ada damai, mengapa ada perang dan bagaimana cara merawat perdamaian.

Kita bersyukur, semangat Sumpah Pemuda telah menjadikan generasi muda hari ini sebagai sosok-sosok yang melihat perbedaan sebagai keindahan, dan sekali lagi itu terlihat dari betapa kreatifnya mereka membuat konten-konten yang mereka produksi.

Tetapi di sisi lain, di tengah banyaknya konten yang mengajarkan pentingnya persatuan itu, generasi muda juga melihat ketimpangan sosial di masyarakat, bahkan tidak jarang mereka membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain.

Di era keterbukaan informasi ini, generasi muda dengan cepat mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan siapa pun, dari negara manapun. Mereka mengecek pencapaian yang kita sampaikan, mereka mendapatkan informasi dan ilmu dengan mengikuti berbagai webinar yang diadakan berbagai organisasi di dunia.

Di sinilah modal dan tantangannya dalam menghidupkan semangat Sumpah Pemuda di era keterbukaan informasi ini. Jika semangat Sumpah Pemuda 1928 mampu mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan 1945 dan merawat NKRI hingga hari ini, maka semangat Sumpah Pemuda 1928 dan potensi pemuda hari ini adalah modal yang sangat besar. Tantangannya adalah, kita bersama harus mampu menggunakan modal yang sangat besar itu untuk mengubah ketimpangan sosial menjadi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Bersatu dan Bangkit. Salam 3M.

Oleh: Ariza Patria, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close